Saya pernah mendengar sebuah anekdot unik tentang seorang Jenderal yang meminta nasehat pada seorang anak kecil. Mungkin sebagian dari Anda pernah mendengarnya juga.
Suatu saat seorang Jenderal dengan mengendarai kuda yang sedang melakukan perjalanan jauh sampai juga pada suatu bibir sungai. Ia bimbang apakah kudanya mampu berjalan menerobos sungai didepannya itu. Ia banyak menimbang karena merasa sungai itu cukup dalam.
Lalu Sang Jenderal melihat seorang anak kecil yang kebetulan sedang bermain di bibir sungai itu. Sang Jenderal menanyakan pendapat si anak kecil apakah kudanya mampu menerobos sungai itu. Si anak kecil terdiam sejenak. Ia mengamati kuda sang Jenderal. Hingga akhirnya ia pun berpendapat bahwa Sang Jenderal dan kudanya mampu melewati sungai tersebut. Begitulah hingga akhirnya Sang Jenderal memutuskan mengikuti perkataan anak itu untuk menyeberangi sungai dengan kudanya. Tapi sesampainya di tengah-tengah sungai Sang Jenderal mulai menyadari kalau sungai itu cukup dalam dan sangat tidak mungkin ia lewati bersama kudanya. Sang Jenderal pun marah dan mengancam akan menghukum si anak kecil. Lucunya si anak kecil tetap tidak terima. Ia tetap mengelak bahwa pendapatnya itu benar. Katanya ia selalu melihat bebek-bebek menyeberangi sungai itu tiap hari. Mereka tidak tenggelam padahal kaki bebek jauh lebih pendek daripada kaki kuda.
Dari cerita itu kita bisa belajar bahwa kita juga harus pintar menimbang-nimbang perlukah kita meminta nasehat atau pendapat orang lain yang kebetulan ada dekat dengan kita. Belum tentu mereka tahu apa dan bagaimana pokok permasalahan kita yang memaksa kita mengambil suatu keputusan. Bisa-bisa pendapat mereka tidak tepat dengan apa yang terjadi pada diri kita saat ini. Penting jika kita bertanya dulu dengan hati kita, merumuskan permasalahan kita, dan lakukan apa yang dikatakan hati nurani kita. Jangan sampai kita menuruti nasehat orang lain yang ternyata tidak tepat dan akhirnya kita malah membuat kambing hitam atas semakin memburuknya masalah kita.



